Pencari Karir Pencari Kandidat

Memulai Bisnis, Cocoknya Sebagai Brand Maker atau Brand Owner?

24 Maret 2021 20:03 1280 KALI DIBACA 0 KOMENTAR 4 KALI DIBAGIKAN

Salah satu penyebab keraguan orang-orang dalam memulai sebuah usaha adalah modal. Kapasitas modal yang dimiliki terkadang membuat kita berhenti untuk bermimpi mewujudkan brand milik sendiri. Padahal banyak jalan dan strategi yang bisa kita pilih untuk merealisasikan mimpi tersebut.

 

Dalam dunia bisnis kita mengenal istilah brand maker dan brand owner. Brand maker didefinisikan sebagai pihak yang memiliki kapasitas produksi sekaligus memegang kendali penuh terhadap sebuah brand. Sedangkan brand owner biasanya menyerahkan proses produksi kepada pihak lain tanpa label dan memasarkannya dengan brand milik sendiri.

 

APINDO UMKM AKADEMI 10 Maret 2021 kemarin kembali mengadakan webinar UMKM berjudul Brand Maker VS Brand Owner: Mana yang Lebih Cocok? Dengan objektif memberikan gambaran akan peluang bagi mereka yang masih takut dan ragu memulai bisnis. Bahwa semua orang bisa mambangun brand sesuai kapasitas yang dimiliki.

 

Narasumber yang hadir diantaranya Hatta Kresna CEO dan Founder Rahsa Nusantara dan Gina Priandini Founder Goodvibes.

 

Hatta Kresna mendirikan Rahsa Nusantara dengan tujuan mengakselerasi kehidupan sehat dan sustainable di Indonesia. Perjalanan bisnisnya diawali dengan berjualan baju tanpa brand di Lapangan Gasibu, Bandung.

 

Ketika itu ia merasa ada di titik terbawah dalam hidupnya. Kemudia ia berpikir untuk memfokuskan bisnisnya bukan hanya untuk diri sendiri melainkan berdampak bagi masyarakat luas. Menurut Kresna ketika mindset itu berubah rejeki perlahan datang ke kehidupannya.

 

Kresna menjelaskan beberapa keuntungan bisnis dengan memproduksi barang sendiri. Menurutnya secara nominal bisa menekan biaya untuk kapasitas kecil saat memulai, standar dan nilai bisa dikendalikan secara internal, dan tidak ada order quantity.

 

Menurut Kresna memilih antara brand owner atau brand maker bergantung pada sumber daya yang dimiliki, bisa berupa finansial atau potensi dari pasar. 

 

“Kita harus memiliki dan membangun brand, dengan memiliki brand akan membuat produk kita bukan komoditas” tutut Kresna.

 

Gina Priandini Founder Goodvibes juga menceritakan bisnisnya yang lebih memilih kolaborasi dibanding keputusan komersial seperti endorsement untuk menaikkan status brand.

 

“Kita ingin brand ini inclusive karena menurut kami sekarang dunia lebih membutuhkan segala sesuatu yang lebih terbuka. Jadi inclusive adalah keharusan untuk masa depan bisnis” jelasnya.

 

Menurut Gina pada saat kita mau membuat sebuah brand objektifnya adalah membuat loyal customer.

 

“Saya melihat di micro business yang effort menjalankan bisnisnya tidak mendefinisikan langkah-langkahnya dengan tertib, merek lebih berpikir dapetin revenue yang besar dengan cepat, lupa bahwa setiap brand dibuat untuk mendapatkan loyalitas” tambah Gina.

 

Buat yang mau memulai dengan resource yang kecil yang penting menurut Gina adalah riset pasar. Pengusaha harus mendengar kebutuhan market seperti apa, ekspektasi mereka seperti apa untuk produk yang kita punya. Kedua, produk harus perform di area yang kompetitor tidak punya. Ketiga, harus melihat semua potensi dan terbuka dengan pendapat orang lain.

 

Webinar APINDO UMKM AKADEMI dengan tema Brand Maker VS Brand Owner: Mana yang Lebih Cocok? dapat Anda saksikan siaran lengkapnya di sini.

 

APINDO UMKM AKADEMI rutin mengadakan webinar kewirausahaan gratis setiap hari Rabu dengan menghadirkan pembicara-pembicara inspiratif di dunia bisnis untuk berbagi pengalamannya.

 

Di episode-episode selanjutnya APINDO UMKM AKADEMI akan menghadirkan narasumber lain dan mengangkat tema yang tidak kalah menarik guna menambah wawasan pelaku UMKM untuk bisa maju dan naik kelas.

 

Daftarkan diri Anda di link berikut ini www.topkarir.com/kewirausahaan, dapatkan informasi eksklusif seputar webinar dan program UMKM lainnya yang bermanfaat untuk kemajuan bisnis Anda. Karena sekarang saatnya #UMKMNaikKelas.

Artikel Terkait
Lihat Selengkapnya
Tips Membangun Bisnis Berbasis Teknologi

Tips Membangun Bisnis Berbasis Teknologi

Apa kamu punya keinginan untuk membangun bisnis berbasis teknologi? Sebelum memulai mewujudkan keinginan tersebut, ada baiknya kamu tau enam tips penting ini. Apa aja ya?   Jadi 'trendsetter Banyak anak muda kurang berani dan hanya ikut arus yang sudah ada. Soal era industri 4.0 bukan hanya soal big data, AI atau robotic aja, justru tantangan utama adalah berani menciptakan solusi dan berani mengeksekusi ide.   Efisiensi Salah satu hal yang kurang dipersiapkan dunia pendidikan kita adalah melatih soft skill untuk menghadapi kehidupan nyata. Padahal soft skill seperti kemampuan untuk bekerjasama, berkolaborasi, mempresentasikan dan mengomunikasikan ide sangat penting dan harus terus ditingkatkan agar efisiensi kerja tercapai.   Berkelanjutan Anak muda saat ini cenderung mudah menyerah sehingga apa yang dilakukan seringkali engga tuntas. Membangun bisnis berbasis teknologi bukanlah sebuah perlombaan lari sprint tetapi justru lari maraton yang membutuhkan stamina, kesabaran, ketekunan dan kegigihan jangka panjang.   Kolaborasi Gagasan Membawa STEM ke dalam bisnis dapat dilakukan dengan melakukan kolaborasi ide-ide. Saat ini bisnis engga bisa berjalan tanpa teknologi dan sebaliknya teknologi engga bisa berkelanjutan tanpa bisnis yang baik.   Memperluas spektrum Di Indonesia, bisnis yang berkembang memiliki spektrum luas, mulai dari bisnis teknologi 4.0 sampai industri 1.0. Ada banyak industri rempah, budaya, hasil bumi seperti kopi yang juga perlu juga dikembangkan secara keilmuan dan juga bisnis. Kita tetap mengejar bisnis berbasis teknologi tinggi untuk masa depan tetapi juga engga lupa untuk mengilmukan bisnis-bisnis tradisional.   Kemampuan organisasi Salah satu hal yang perlu ditingkatkan oleh kita adalah kemampuan organisasi, karena saat mendapatkan modal besar, banyak dari kita kemudian gagap bagaimana melakukan organization scaling dan organization excellent. Masih banyak anak muda yang belum siap dalam membesarkan dan mengatur unit bisnis secara baik.   Nah, saatnya kamu terapkan enam tips ini supaya bisnis berbasis teknologi yang kamu impikan bisa tercapai dengan baik! Yuk temukan tips lainnya di aplikasi TopKarir. Semangat Sahabat TopKarir!
Trik Jitu Mempromosikan Produk Usaha di Bulan Ramadan

Trik Jitu Mempromosikan Produk Usaha di Bulan Ramadan

Ramadan menjadi bulan yang penuh berkah, keberkahan ini juga terasa pada sektor usaha dikarenakan meningkatnya aktivitas jual beli masyarakat. Terlebih produk usaha di bidang kuliner.   Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Nielsen (perusahaan yang bergerak dibidang informasi global dengan melakukan riset terhadap informasi pemasaran), bisnis kuliner meraup pendapatan sebesar 45% pada 3 periode dan termasuk bulan Ramadhan.   Melihat meningkatnya minat beli masyarakat di bulan Ramadan, tentu harus bisa dimanfaatkan para pebisnis atau yang mau memulai bisnis untuk mendulang rezeki. Bagian krusial dari penjualan adalah promosi, tanpa promosi yang baik jangankan meningkatkan penjualan, produkmu bahkan nggak akan dikenal. Karena pentingnya kegiatan promosi, TopKarir berbagi cara ampuh mempromosikan produk usahamu agar laku di pasaran, yuk simak ulasan lengkapnya.   Riset perilaku konsumen saat bulan Ramadan Lakukan riset dan amati perubahan perilaku konsumen dan kebiasaan masyarakat pada saat Ramadan. Saat Ramadan, muslim yang menjalankan puasa pasti lebih banyak melakukan ibadah untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Hal ini bisa dijadikan strategi untuk melakukan pendekatan promosi melalui konten bertemakan ibadah, keislaman, berbagi atau hal-hal baik lainnya.   Kondisi pandemi covid-19 juga mengubah pola konsumsi masyarakat Indonesia. Kebijakan untuk tidak keluar rumah membuat masyarakat berpikir untuk membeli kebutuhan Ramadan dalam jumlah besar agar mengurangi intensitas keluar rumah. Sekarang masyarakat juga lebih berhati-hati membeli produk dengan mempertimbangkan higienitas. Karenanya kamu harus bisa meyakinkan calon konsumen melalui promosi bahwa produk yang kamu jual selain berkualitas juga steril.    Buat produk spesial Ramadan  Produk yang paling laris manis di bulan Ramadan adalah makanan dan minuman. Konsumen akan banyak berdatangan membeli produk untuk dikonsumsi pada saat berbuka dan sahur. Semakin banyak variasinya, maka konsumen akan lebih tertarik karena punya banyak pilihan.   Di situasi pandemi sekarang ini, produk makanan beku / frozen food lebih diminati, karena konsumen memilih berbelanja bahan makanan yang bisa bertahan lebih lama agar mengurangi frekuensi keluar rumah.   Produk yang nggak kalah laku di bulan Ramadan adalah produk pakaian Muslim, menjelang Hari Raya orang-orang akan berbondong-bondong membeli pakaian baru sebagai tradisi menyambut hari yang fitri. Tawarkan beberapa promosi seperti potongan harga, bonus pembelian dll.   Tentukan waktu yang tepat saat memasarkan produk Di bulan Ramadan ada beberapa waktu khusus dimana konsumen lebih banyak berselancar di internet. Berdasarkan data EcommerceIQ, kunjungan tertinggi orang-orang Indonesia ke situs e-commerce terjadi dua kali sehari selama bulan Ramadhan 2017. pertama yakni saat sahur, tepatnya pukul 04.00-05.00 WIB dan yang kedua ketika menjelang buka puasa sampai shalat Isya, yakni pukul 17.00-20.00 WIB. Hindari menjual produkmu saat satu minggu sebelum lebaran, karena konsumen berpikir apabila membeli kebutuhan lebaran terlalu mepet, harga akan semakin naik, stok produk yang dicari juga terbatas, atau kendala pengiriman akibat libur panjang.   Buat konten bernuansa Ramadan Pencarian keyword yang berhubungan dengan bulan Ramadan pada pencarian Google juga mengalami peningkatan. Membuat konten bertema Ramadan membuat kunjungan pada situs promosi kamu semakin tinggi, orang-orang akan berusaha menemukan konten yang mereka butuhkan selama Ramadan.   Gunakan dekorasi Ramadan sebagai pelengkap konten visual atau video produk kamu. Tambahkan tagar yang banyak digunakan saat Ramadan dalam konten promosi di media sosial, seperti Instagram, Facebook, Twitter atau yang sekarang sedang hype yaitu TikTok. Bangun hubungan dengan calon konsumen melalui pendekatan emosional, interaksi dan konten-konten yang relate dengan kehidupan mereka.   Optimalkan promosi melalui media online Sejak 2017 masyarakat lebih memilih media online untuk mengisi waktu luang selama berpuasa, dimana tahun-tahun sebelumnya televisi masih menjadi idola. Selain dapat menjangkau konsumen lebih luas, pemasaran melalui online dalam kondisi pandemi saat ini jauh lebih efektif karena orang-orang lebih memilih berbelanja aman dari rumah.   Selain itu promosi dengan memanfaatkan media online tidak membutuhkan biaya sepeserpun alias gratis. Kecuali kalau kamu mau menggunakan jasa influencer untuk mereview produkmu, setidaknya kamu harus memberikan produk gratis atau membayar jasanya sesuai tarif / kesepakatan. Carilah influencer dengan segmentasi followers sesuai target pembeli produk kamu.   Semoga tips di atas bisa menginspirasi Sahabat TopKarir yang membaca di rumah ya. Yuk temukan tips-tips dan informasi karir lainnya di aplikasi TopKarir. Download aplikasinya gratis di Play Store dan App Store!
Komentar